It's all about me

surakarta, jawa tengah, Indonesia
WELCOME TO MY BLOG. Hello my name is Nifa Inti Pratiwi (Nifa) | for more information please add my fb : Nifa Inti Pratiwi | twitter : @nfprtw | instagram : @nfprtw | line : nfprtw | THANKS

Minggu, November 29, 2015

Cinta Lingkungan

Pada zaman dahulu, di sebuah negara yang bernama Negeri Abaz, terdapat sebuah hutan yang sangat lebat dan sungai yang cukup besar di dalamnya, namanya Sungai Diyaz. Hutan tersebut selalu ditutupi awan setiap harinya. Sungainya pun airnya sangat jernih dan menyegarkan.
Namun, pada suatu hari, terdengar kabar bahwa sebentar lagi di pinggir hutan akan dibangun sebuah pabrik besar, pabrik pengolah bahan-bahan tekstil. Pabrik tersebut rencananya dibangun tepat membelakangi sungai Diyaz. Para penghuni hutan sangat terkejut mendengar kabar tersebut, terutama si Diyaz. Ia berpikir bahwa nantinya pabrik tekstil tersebut akan membuang limbah-limbah hasil olahan pada dirinya. Jika itu terjadi, maka ia akan tercemar, kelangsungan hidupnya akan terancam dan itu berarti semua penghuni hutan akan mati. Ia tidak ingin hal itu terjadi.
Sungai Diyaz mempunyai seorang sahabat bernama awan Kinton. Awan Kinton tinggal tepat di atas hutan. Dialah yang membuat suasana hutan selalu sejuk dan rindang. Suatu hari, Awan Kinton berencana mengunjungi sungai di bawah. Ia sudah lama tidak bertemu sahabatnya itu. Ia sangat rindu ingin bertemu.
Sesampainya di bawah, Awan Kinton bertemu dengan sungai Diyaz. Mereka saling salam-menyalami dan kemudian mereka terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Satu persatu dari mereka mulai bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Awan Kinton bercerita bahwa akhir-akhir ini di atas banyak sekali angin-angin jahat yang suka merusak gugusan awan. Ia merasa sangat terganggu akan hal tersebut. Sungai Diyaz pun mendengarkannya dengan sepenuh hati. Ia juga memberi solusi yang tepat berhubungan dengan masalah yang dihadapi Awan Kinton.
Tibalah giliran Diyaz untuk bercerita. Diyaz pun mulai bercerita tentang masalah yang dihadapi berkaitan dengan akan dibangunnya pabrik tekstil yang letaknya persis di samping dirinya. Diyaz sangat khawatir mengenai hal ini dan ia tidak tahu apa yang harus dilkukannya. Ia meminta solusi kepada Kinton. Namun, entah mengapa, Kinton yang dimintai solusi malahan ketakutan mendengar cerita Diyaz.
Diyaz pun bertanya pada Kinton mengapa ia begitu ketakutan. Ternyata Kinton khawatir jika pabrik itu jadi dibangun, pabrik tersebut akan mengeluarkan asap berpolusi yang akan mencemari udara. Asap dari pabrik tersebut pastilah asap beracun yang akan merusak dirinya dan semua keluarga awan yang berada di atas.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul enam petang.
Mereka belum sempat menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Namun, awan Kinton harus segera kembali ke atas dan berkumpul kembali dengan awan-awan yang lain agar gugusan awan tidak rusak. Awan Kinton pun kembali ke atas dengan dipersilahkan oleh Diyaz. Diyaz dan Kinton sepakat untuk meneruskan pembicaraan keesokkan harinya.
Keesokan harinya, Kinton kembali ke bawah untuk menemui Diyaz. Mereka ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang terpotong kemarin sore. Belum sempat mereka mengobrol, tiba-tiba terdengar suara bising dari pinggir hutan. Kinton penasaran dengan suara bising tersebut dan ingin mengetahuinya. Ia pun segera pergi ke pinggir hutan untuk melihat apa yang terjadi. Sesampainya di pinggir hutan, Kinton sangat terkejut, seakan ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia melihat puluhan buldozer dan belasan truk-truk besar berkumpul di sana. Ia juga melihat banyak pekerja yang sedang sibuk mempersiapkan alat-alat berat dan sebagainya, nampaknya mereka ingin membangun sesuau yang besar di pinggir hutan.
Ketakutan muncul di benak Kinton, ia teringat cerita tentang rencana pembanguan pabrik besar di pinggir hutan yang diceritakan Diyaz kepadanya. Nafasnya terengah-engah, jantungnya berdetak kuat, wajahnya pun memucat seketika. Ia melihat ke sekelilingnya kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah Diyaz. Dengan secepat kilat, Kinton pun sudah sampai di rumah Diyaz. Wajahnya masih terlihat sangat pucat. Tidak lama kemudian, ia pun bertemu Diyaz. Dengan bibir yang masih bergetar, Kinton menceritakan apa yang baru saja dilihatnya kepada Diyaz. Diyaz pun terlihat sangat takut dan setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya itu.
Sebulan sudah pembangunan pabrik berlangsung. Pabrik sudah hampir jadi seutuhnya. Diyaz dan teman-temannya semakin khawatir akan nasib mereka di masa mendatang. Sekarang, mereka hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keesokan harinya, Kinton sedang berjalan-jalan di area pembangunan pabrik sambil mengamat-amati apa yang terjadi. Ketika ia sedang melihat sekeliling, tiba-tiba ia dikejutkan oleh apa yang dilihatnya di pinggir sungai dekat pabrik. Berkarung-karung sampah dan sisa-sisa bahan bangunan terapung di permukaan sungai. Membuat sungai terlihat sangat kotor dan berbau sangat menyengat. Kemudian, ia juga melihat beberapa pekerja yang sedang membuang sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai ke sungai dengan seenaknya. Sontak, Kintok sangat terkejut melihat hal itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung saja pergi ke rumah Diyaz untuk memberitahukan apa yang terjadi.
Saat di rumah Diyaz, tanpa basa-basi, Kinton langsung memberitahukan apa yang terjadi kepada Diyaz dengan sejelas-jelasnya. Kinton mempunyai usul agar Diyaz bersama seluruh penghuni hutan segera mengadakan musyawarah untuk mengatasi masalah ini.
Pada pagi harinya, Diyaz bersama Kinton menuju rumah Raja hutan, Simba, untuk menyampaikan usul mereka. Usul mereka pun disetujui. Siangnya, semua penghuni hutan berkumpul di lapangan Radian, lapangan yang biasa digunakan untuk acara perkumpulan para penghuni hutan.
Setelah semua datang dan duduk dengan tenang, Simba Si Raja Hutan dengan muka serius mulai membuka acara. Ia menerangkan tentang masalah yang sedang terjadi di hutan ini yang mungkin akan mengancam kehidupan hutan. Semuanya mendengarkan dengan sangat khidmat.
Musyawarah pun segera dimulai. Banyak yang mengusulkan ide untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, namun ide-ide yang diusulkan banyak yang kurang masuk akal. Sebagai contoh, ada yang mengusulkan untuk menyerang para pekerja pabrik agar mereka tidak bisa bekerja, ada yang usul agar semua hewan bermigrasi ke hutan yang lain, dan sebagainya.
Musyawarah berlangsung hingga sore menjelang. Tak ada satu pun ide yang dirasa cocok untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Semua yang datang sudah hampir putus asa. Mereka sudah sangat bingung. Namun, lain halnya dengan Si Diyaz, ia terkenal cukup cerdik di hutan itu.
Sejak tadi, ia terlihat sangat tenang dan santai.
Hari sudah sangat petang, kebingungan pun memuncak. Dan, saat semua tengah bingung, tiba-tiba Diyaz datang dan maju ke depan, ia seperti ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
“ Ehem-ehem…”, Diyaz membuka pembicaraannya.
“ Saudaraku semua, kita memang sedang dihadapkan pada permasalahan yang sulit, tetapi kita tidak boleh panik ataupun takut, kita harus menghadapi ini dengan kepala dingin, saya punya usul, bagaimana kalu kita membuat bencana untuk merusak pabrik yang sedang dibangun? ”, tanya Diyaz.


“Apa maksudmu membuat bencana, Diyaz?”, tanya Simba penasaran.


“Begini, membuat bencana yang aku maksud adalah membuat banjir agar pembuatan pabrik tidak bisa dilanjutkan lagi”, jawab Diyaz.
“Bagaimana caranya?” tanya Simba.
“Wahai Raja Hutan, untuk masalah cara, Raja bisa menyerahkannya kepada kami, Raja tinggal menunggu hasilnya”, jawab Diyaz tenang.


“Betulkah itu?”, kata Simba meragukan.
“Betul Raja, kami akan bekerja sama dan saling membantu untuk menyelamatkan hutan ini dan seisinya”, jawab Diyaz meyakinkan.
Esoknya, seluruh penghuni hutan berkumpul kembali untuk melaksanakan rencana Diyaz. Rencananya, Diyaz dan teman-teman akan membuat banjir besar di sekita area pembangunan pabrik. Diyaz pun membagi tugas kepada masing-masing yang datang. Kinton bertugas mengajak teman-teman awannya untuk berpindah ke atas pabrik dan juga atas sungai. Diyaz bertugas meluapkan air sungai. Bukit berbatu yang berada di bagian atas bertugas menggugurkan dirinya tepat di bangunan pabrik. Binatang-binatang bertugas merusak sarana dan prasarana yang digunakan untuk pembangunan, sedangkan yang lain bertugas membantu semampunya.
Hari berikutnya, semua sudah bersiap sedia melaksanakan rencana. Semua sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Yang pertama bekerja adalah Kinton, ia bersama teman-temannya pergi ke atas area pembangunan pabrik dan juga sungai. Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung membuat mendung yang besar dan gelap untuk membuat hujan yang sangat besar. Dalam sekejap langit berubah menjadi gelap dan hujan pun mulai turun. Semakin lama hujan yang turun semakin lebat. Hal ini membuat semua orang di area pabrik langsung panik, mereka berlari kesana-kemari mencari tempat teduh. Pekerjaan mereka pun tidak dapat terselesaikan dengan segera.
Sementara itu, di sungai, air mulai meluap. Awan-awan terus menurunkan hujan sebanyak-banyaknya. Tidak lama kemudian, air luapan sungai mulai menggenangi tanah di area pabrik, bahan-bahan bangunan yang belum sempat diselamatkan hanyut terbawa arus sungai. Begitu juga dengan alat-alat yang digunakan, semua ikut hanyut bersama derasnya aliran air. Para pekerja tidak ada yang berani utuk menyelamatkan.
Binatang-binatang pun mulai beraksi, mereka menyusup ke tempat pembangunan pabrik. Ada yang mengganggu para pekerja agar tidak ada yang menyelamatkan alat-alat berat, ada yang mencuri denah pembangunan pabrik dan lain-lain. Mereka bekerja dengan sangat baik dan kompak.
Sementara itu, bukit-bukit batu mulai melongsorkan tanah dan bebatuan ke arah bangunan pabrik dan alat-alat berat, sehingga semuanya hancur dan tidak bisa digunakan lagi. Bangunan yang sebenarnya sudah hampir jadi, kini sudah rata dengan tanah. Yang tersisa hanya puing-puing.
Para pekerja sangat kebingungan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa melihat bangunan yang baru saja mereka bangun, kini sudah hancur tak bersisa. Mereka pun tidak tahu apakah pembangunan pabrik ini akan dilanjutkan atau tidak. Mereka tinggal menunggu keputusan dari bos besar.
Setelah cukup lama hujan turun dengan derasnya, akhirnya mereda juga, awan-awan kembali ke tempatnya masing-masing. Langit kembali terlihat cerah. Air sungai pun sudah kembali mengalir seperti biasa. Namun, cerahnya langit itu rupanya berseberangan dengan raut wajah para pekerja, mereka terlihat sangat sedih, kesal, dan juga marah.
Akhirnya, para pekerja pergi dari tempat pembangunan pabrik. Semua alat dan perlengkapan ditinggalkan begitu saja. Mereka akan melapor kepada bos mereka tentang apa yang baru saja terjadi di hutan.
Esok harinya, Raja Simba mengumpulkan semua penghuni hutan di rumahnya. Sang Raja ingin berterima kasih kepada semuanya karena telah berhasil menyelamatkan hutan dari pencemaran limbah pabrik. Sebagi tanda terima kasih, Sang Raja mengadakan acara pesta dan makan besar untuk semua penghuni hutan. Semua terlihat sangat senang dan berbahagia.

Kini, pembangunan pabrik sudah tidak dilanjutkan lagi karena kerugian yang terlalu besar. Hutan pun bebas dari ancaman polusi dan limbah pabrik. Penghuni hutan tidak lagi merasa was-was untuk menjalani kehidupan seperti biasa. Mereka hidup dengan tenang dan berdampingan satu dengan yang lainnya

KELULUSAN DAN PERPISAHAN

Saat-saat yang menegangkan adalah saat dimana Ujian Nasional akan dilaksanakan! Itu menurut teman-temanku. Tapi menurutku, Ujian Nasional sama saja seperti ulangan-ulangan biasa. Yang berbeda cuma soal Ujian Nasional di ambil dari pelajaran-pelajaran kelas X, XI, XII.

Seminggu sebelum ujian ini dilaksanakan, aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya bersama sahabatku, Naya. Aku bersahabat dengan Naya sejak kelas 7 SMP. Saat itu, dia sudah kelas 8. Tetapi, ketika Naya naik ke SMA, dia pindah ke Ibukota Jakarta dan bersekolah di suatu sekolah yang sangat bagus dan menjadi sekolah idaman semua anak (tidak semua juga sih). Tetapi, karena bisa di kata aku murid yang terkenal cerdas (bukan maksudku sombong) aku menerima ekselerasi di sebuah SMA tempat Naya juga bersekolah. Sungguh sesuatu yang sangat membanggakan untukku.
Setelah aku menerima dan menyetujui ekselerasi itu, akupun mengabari kepada Naya,
“Naya?”
“Iya Nan? Kenapa? Barusan lagi kamu nge-sms aku. Hehe :D ”
“Oh, enggak. Aku cuma mau bilang, aku mau liburan kesana.”
“Oh, ya? Wah. Senang rasanya. Kamu tinggal dimana disini? Kapan-kapan kamu mampir kerumahku yah. Btw, kok tumben kamu liburan ke luar kota? Biasanya kamu pilih liburan di rumah?”
“Hehe. Sebenarnya, bukan sekedar liburan. Aku dapat ekselerasi sekolah disana. Jadi, kira-kira kalau kamu kelas 12 nanti, kita seangkatan.”
“Hah? Iyakah? Wah. Selamat yah Nan. Kamu sudah bisa buktiin kalau kamu bisa. Oh, iya. Sampai jumpa disini yah.”
Naya pun menutup telponku.

Perasaan bangga dan senang yang kini kurasakan. Aku ditemani abangku yang juga bersekolah tepatnya kuliah S1 di Jakarta. Aku memang pernah mengatakan kepada Nia, aku pengen mendapatkan ekselerasi dan bersekolah di tempat suatu sekolah yang menjadi idaman banyak orang. Tetapi, berkat sebuah lomba internasional yang kuikuti, sekolah memberikanku beasiswa dan akupun mendapat ekselerasi.

Ketika aku masuk di sekolah ini, yah Naya sudah kelas 11. Dan ketika pengumuman penaikan kelas, akupun naik ke kelas 12. Dan karena Naya terkenal sebagai anak yang cerdas di sekolah ini, dia dimasukkan di kelas homogen, yaitu kelas khusus untuk anak-anak yang di anggap cerdas dan kelas ini menggunakan 2 bahasa. Inggris-Indonesia. Bukan berarti, kelas-kelas yang lain itu buruk. Dan ketika kelas 12, aku sekelas dengan Naya. Sungguh senang rasanya. Kami kadang bernostalgia ketika masa-masa di SMP dulu dan saling tanya-menanya tentang sahabat-sahabat kami yang dulu seperti Aydhil, Rani, Didit, Dini, Nasha, dan Rian. Mereka masih ada yang menetap kecuali Rani. Dia bersekolah di Bandung. Tapi, komunikasi kami semua masih tetap lancar.

Persiapanku dan Naya menghadapi ujian nasional sudahlah mantap. Kamipun tak lupa memanjatkan doa untuk kelulusan kami. Tetapi ada kabar yang sangat mengejutkan dari Naya. Kesehatannya sangat turun. Penyakitnya yang dia idap semenjak kecil kambuh lagi. terpaksa dia di rawat di rumah sakit selama beberapa hari. Akupun sering menjenguknya bersama abangku. 3 hari lagi, ujian nasional akan diadakan. Dan menurut keterangan dokter, Naya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit dalam 2 hari kedepan. Akupun selalu berdoa, semoga Naya bisa mengerjakan soal-soal ujian nasional terakhirnya selama hampir kurang lebih 12 tahun dia bersekolah.

Ujian nasional yang telah lama dinanti-nanti ini akhirnya tiba. Ku lihat, Naya turun dari mobil menggunakan kursi roda. Kemudian kudatangi dia dan ku dorong kursi rodanya menuju ruanganan ujian. Aku sangat kasihan dengan Naya. Walaupun dia lagi sakit, dia tetap masuk sekolah dan melakukan ujian.

Ujian dilaksanakan hanya 3 hari. Setelah ujian nasional berakhir. Ku lihat wajah teman-temanku. Senang, gembira, dan ada juga yang tegang dan bingung bagaimana nanti hasilnya. Dan ku lihat Naya menghampiriku.
“Hay, Nan.”
“Hay, Naya. Gimana nih perasaanmu?”
“Yah, seperti teman-teman yang lainlah, Nan. Semoga hasilnya sangat memuaskan yah Nanda.”
akupun membalasnya dengan senyuman.

Pengumuman kelulusan akan diumumkan dalam kurung waktu 2-3 minggu lagi. aku hanya dapat berdoa dan berdoa. Karena akulah anak paling muda diangkatanku. Aku berbeda setahun dari mereka. Jadi ku pikir, apakah aku bisa? Tapi untung saja ada Naya, dan sahabat-sahabatku yang lain mendukungku. Ku ingat apa yang dikatakan Rani, “Kamu punya mimpi yang besar dan kamu kini bisa mewujudkannya! Yaitu, kamu bisa membanggakan orangtua, kami (sahabat-sahabatmu) dan sekolah di tingkat internasional! Kamupun harus tetap yakin kamu bisa lulus dan kalau perlu, kamupun harus bisa mengalahkan nilai-nilai kami! Kamu pasti bisa!” ku ucapkan baik-baik kata-kata itu di dalam didiriku. Naya pun selalu mendukungku. Akupun selalu mendukungnya.

Hari ini, aku bangun dengan gembira. Bagaimana tidak. Ini adalah hari dimana penamatan akan dilakukan. Aku didampingi abangku menuju gedung tempat penamatan sekolahku dilakukan. Untung saja permohonanku untuk orangtuaku diwakili oleh abangku dikabulkan dengan pertimbangan, jauhnya jarakku dengan orangtuaku. Aku sangat deg-degan menunggu hasilnya dibukakan oleh bapak kepala sekolah. Ku lihat pula wajah teman-teman yang lain. Sepertinya merekapun deg-degan dan adapula yang mulutnya komat-kamit berdoa. Dan oh, ya. Dimana Naya?? Akupun melihat kesekelilingku. Kemudian, ada ku lihat seorang anak menggunakan kursi roda masuk dengan didampingi kedua orangtuanya. Karena ada 3 kursi kosong disampingku, orangtua Naya pun duduk disitu dan seorang guru memindahkan satu kursi karena Naya hanya ingin duduk di kursi rodanya saja. Ku lihat sebuah senyuman terukir di bibir kecil Naya. Dia agak pucat.

Ketika pak kepala sekolah membuka hasilnya, ternyata semua siswa(i) di sekolah kami lulus 100%! Kami semua bersorak gembira. Adapula yang melakukan sujud syukur dan adapula yang menangis bahagia.
“Selamat yah dek. Adek kini sudah membuktikan ke abang klo adek bisa.”
“Iya, bang. Makasih. Dan makasih juga atas doa-doa mas ke adek.” Jawabku sambil tersenyum. Kemudian ku lihat Naya. Dan kemudian ku peluk dan kuucapkan selamat ke Naya. Dan ketika kucek hpku, sudah banyak ucapan selamat dari teman-temanku dan juga sahabat-sahabatku. Ternyata, Aydhil, Rani, Didit, Dini, Nasha, dan Rian lulus pula! Senang rasanya dapat lulus bersama walaupun dengan jarak yang sangat jauh. Apalagi ketika pak Rahmat dan Bu Dzur mengumumkan siswa berprestasi dan mendapat nilai tertinggi di sekolah. Dan syukur alhamdulillah! Akupun kembali membanggakan keluargaku dan juga sahabat-sahabatku! Aku naik sebagai siswa berprestasi bersama Naya! Dan mendapat nilai tertinggi bukan hanya di sekolah, tapi senasional! Akupun kembali mendapat beasiswa. Karena aku juga sering ikut perlombaan mewakili sekolah ketika kelas 10.

Aku dan Naya pun naik keatas panggung dengan keluarga. Kecuali aku yang hanya didampingi oleh kakakku. Aku dan Naya mendapat banyak hadiah dari sekolah walaupun lebih banyak aku. Aku mendapat beasiswa kuliah S1 di Amerika. Ketika di atas panggung, ku lihat Aydhil, Rani, Didit, Dini, Nasha, dan Rian! Dan ku bisik ke Naya bahwa mereka ada di dekat pintu masuk. Ku lihat pula Nasha yang asyik memotret-motret kami di atas. Ku lihat juga, senyum kebahagiaan di bibir Naya.
“Para hadirin, perlu anda semua ketahui, Arinanda Zafinah Putri yang akrab di panggil Nanda dan Azizah Kanaya atau yang akrab di panggil Naya ini pernah menjuarai sebuah lomba yang mungkin kalian tidak ketahui termasuk saya sendiri sebagai gurunya dan hanya pak kepala sekolah yang tahu, mereka berdua mendapat juara 1 dalam lomba tersebut! Penyerahan hadiah dilakukan oleh pak kepala sekolah dengan hormat kami persilahkan menyerahkan hadiah kepada Arinanda dan Azizah.” Kulihat hadiah uang sebesar 12 juta diberikan kepada kami berdua. Dan 2 buah medali emas untuk kami berdua. Ku lihat sahabat-sahabatku yang bersorak-sorak gembira.

Esokan harinya, ku lihat ada sebuah sms masuk. “Hai Nanda. Ini aku Didit. Entar jam 10 kamu ke sebuah restoran dekat rumah kakakmu yah? Kami tunggu?” kulirik jam dinding. Sudah pukul 8. Aku segera bersiap-siap. Aku sebenarnya sudah dapat mengendarai kendaraan bermotor sendiri. Cuma kakakku takut membiarkankanku. Ketika kakakku ada kuliah tambahan, aku kadang nekad membawa motornya. Tapi, untuk sekarang aku dibolehin karena kakakku lagi ingin mengendarai mobilnya. Dan rencananya juga, orangtuaku dan adekku akan datang nanti sore.

Sudah hampir jam 10, akupun berangkat ke tempat yang dikatakan Didit. Sesampainya disana, semua sahabat-sahabatku sudah pada ngumpul. Kamipun bernostalgia tentang masa-masa di SMP dulu dan kami tak sadar bahwa kami telah tamat SMA.
“ngomong-ngomong, kita ada yang kurang deh.” Kata Aydhil.
“Hm, sepertinya iya. Tapi siapa?” kata Dini.
akupun melihat ke sekeliling. Ternyata betul ada yang kurang. Naya. Dia tidak disini. Kemudian aku mencoba untuk menghubungi telpon Naya.
“Hallo.”
“iya, hallo nak Nanda?”
“Oh, ini mamanya Naya ya? Tante, aku mau nanya, Naya ada di rumah engga?”
“Hiks.” Ku dengar suara isak tangis tante Velga.
“Hallo tante? Ada apa?”
“Begini nak Nay, Naya. Sedang di rawat di rumah sakit dan keadaannya sangat kritis.” Tiba-tiba airmataku turun. Sahabat-sahabatku serontak kaget melihatku.
“Ada apa Nan? Apa yang terjadi sama Nia? Nan? Cerita dong.” Kemudian akupun menceritakan kepada mereka. Kamipun segera menuju rumah sakit tempat Naya di rawat. Didit memboncengku karena dia takut aku kenapa-kenapa kalau aku bawa motor sendiri.

Sesampainya disana, Rani segera bertanya kamar Naya. Setelah itu kami bergegas ke kamar tempat dirawatnya Naya. Ku lihat dia terbaring lemah. Aku segera memegang tangannya dan memanggil namanya pelan sambil terisak.
“Dia begitu pucat dan begitu dingin. Aku cuma bisa mendoakan yang terbaik.” Ujar Rian. Dia anak yang pendiam, namun ketika sudah ngumpul bareng kami, dialah yang paling ribut. Tapi dia memiliki insting dan feeling yang sangat kuat. Katanya, sudah keturunan dari keluarganya memang.
“Rian! Jangan berkata begitu!” kata Dini sambil menyikut Rian.
“Hm, okelah.”
kemudian kulihat Naya tersenyum dan membuka matanya.
“Nay, kamu kenapa? Kamu baik-baik sajakan? Nay.” Kataku masih sambil terisak. Dia hanya tersenyum. Membuatku tambah menangis dan Ranipun ikut menangis di pundak Dini.
“aku, baik-baik saja.” Kata Naya. Akupun terdiam sejenak sambil melihat Naya yang menghembuskan nafasnya panjang.
“Nay,”
“Hm, teman-teman. Terima kasih sudah datang menjengukku. Aku juga berterima kasih atas kebaikan kalian selama ini. Huft. (Naya kembali menghembus nafas panjang) dan aku juga meminta maaf kalau aku banyak salah ke kalian. Mungkin saja, umurku ini sudah tak lama lagi. jadi aku mohon maafkan aku ya.” Rian kemudian berjalan dan menunduk ke telinga Naya. Entah apa yang mereka bicarakan. Rani pun menjawab,
“Kamu –Hiks- kamu engga punya salah apa –hiks- apa ke kita. Kita juga mau minta maaf ke kamu.”
“Iya aku maafin.” Ku lihat begitu indah senyuman Naya. Sangatlah indah. Kemudian, Rian berbisik dan Nayapun mengikuti apa yang dikatakan Rian. Aku hanya dapat terdiam dan mengeluarkan airmata mendengar kata-kata itu. Shalawat dan syahadat.

Tiit.. tiit.. tiitt.. Jantung Naya berhenti berdetak seiring ketika ia tersenyum kepada kami. Tumpahlah air mata kesedihan kami. Akupun berusaha mengguncang-guncang membangunkan Naya. Tetapi, dia tertidur sangatlah lelap. Hanya tangisan yang kami dapat lakukan.

Pagi ini adalah hari pemakaman Naya. Aku harus hadir.
“Nan, bangun nak. Katanya mau ngehadirin pemakaman Nia. Ayolah cepat.” Kata mamaku. Ku lihat abangku yang sudah siap dengan baju berkerah berwarna hitamnya. Akupun segera mandi dan mengganti pakaian.

Tepat di rumah duka, kulihat teman-teman dan sahabat-sahabatku telah berkumpul. Rani datang kemudian memelukku erat.
“Nan, entah apa yang harus kukatain sekarang. Aku engga sanggup melihat sebuah mayat orang yang sangat kita sayangin disana. dan, aku engga nyangka, kita akan berpisah jauh dengannya.” Airmataku pun tumpah lagi. akupun segera berlari masuk dan memeluk erat Naya.
“Naya, walaupun engkau tidak mendengar secara fisik tapi aku yakin arwahmu mendengar apa yang kuucapin. Aku mau berterima kasih, sama kamu! Kamulah penyemangatku! Entah akan jadi apa aku saat ini kalau kamu engga ada kamu. Naya.”

Setelah sholat Dzuhur Naya dimakamkan di TPU terdekat. Ku lihat orang-orang termasuk Didit, Aydhil dan Rian memggendong sebuah keranda yang berisi mayat yang telah dikafani. Naya. Azizah Kanaya. Telah tertidur untuk selama-lamanya.

Setelah pemakaman selesai, sisa aku, rani, aydhil, didit, rian, Nasha dan Dini dipemakaman. Orangtua Nia sudah pulang. Ku lihat sebuah nisan yang bertuliskan nama : AZIZAH KANAYA BINTI NURDIFAN. Kami semua hanya dapat menangis, menangis, dan menangis sedih.

Seminggu setelah sepeninggal Naya, aku akan berangkat Amerika. Sehari sebelum berangkat, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Nia. Kemudian, aku berangkat ke bandara oleh keluarga dan sahabat-sahabatku. Karena hari ini juga, Rani berangakat ke Singapura. Jadi barengan deh. Aku ke Amerika ditemani oleh seorang guruku di SMA.

Terima kasih Naya. atas dukunganmu aku bisa sesukses sekarang ini. Sudah hampir 6 tahun kau meninggalkanku. Sekarang aku menjadi seorang penulis terkenal dan aku telah menyelesaikan kuliahku di Amerika. Akupun diterima di sebuah perusahaan di Amerika. Sahabatku yang lain pula kini sudah menjadi orang yang sukses. Rani berhasil menjadi seorang desainer muda terkenal. Didit sibuk dengan semua proyeknya. Didit kini menjadi seorang arsitek muda. Dini dan Nasha berhasil mewujudkan mimpi mereka berdua membuka sebuah restoran. Rian kini kerja di Rusia sebagai ilmuwan, dan oh, ya Aydhil! dia bekerja sebagai seorang dokter. Bangga rasanya kami semua telah sukses. Saat ada reuni angkatanku dan angkatan sahabat-sahabatku pun, ku lihat teman-temanku sudah pada sukses dan ada pula sudah memiliki anak. Di acara tersebut, kami memanjatkan doa bersama untuk alm. Naya.
Selamat jalan Sahabatku. Semoga engkau tenang berada di sisi-Nya

-THE END

Roti Untuk Yang Tercinta

Di keheningan senja menyapa alam selepas salat maghrib di rumah, Ayah memandangi wajah mungilku yang sebentar lagi akan duduk di bangku sekolah dasar. Aku balas pandangan Ayah dengan tatapan kasih sayang. Dari raut wajahnya seolah Ayah ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tidak tahu apa yang ada di benak Ayah. Ternyata benar, tiba-tiba Ayah berkata kepadaku, “Nak, kalau kamu nanti sudah besar Ayah akan menyekolahkan kamu ke pesantren, agar kelak kamu menjadi anak yang saleh.” Aku menganggukkan kepala, dengan kepolosan wajah menandakan bahwa aku mengiyakan ucapan Ayah.

Seiring dengan berputarnya waktu mengikuti arah jarum jam, hari ini adalah hari pertamaku duduk di bangku sekolah dasar SD Negeri 121 Bojong. Aku sangat senang bertemu dengan guru-guru yang baik hati dan teman baru yang lucu-lucu. Hari-hari di sekolah, ku lalui dengan riang gembira. Tiada terasa enam tahun sudah berlalu, di sudut malam bersamaan dengan gerimis hujan yang menghampiri bumi, Ayah mendekati aku di ruang tamu sembari berucap.

“Dayat, sebentar lagi kan kamu akan lulus SD nak, sebenarnya Ayah sangat menginginkan kamu masuk pesantren, sesuai dengan rencana Ayah dulu. Tapi di sisi lain, Ayah belum tega berpisah karena kamu satu-satunya anak lelaki Ayah, dan kelihatannya kamu juga masih terlalu kecil untuk tinggal di asrama”
“Iya yah, dayat menurut saja sama Ayah” jawabku dengan polos.
“Bagaimana nak kalau kamu masuk pesantrennya nanti setelah lulus SMP?”
“Iya yah, Dayat setuju”

Setelah lulus SD, akhirnya aku terlebih dahulu dimasukkan di SMP Negeri Madina, Sumut. Pergeseran waktu begitu cepat, sekarang aku telah duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Saat ini aku benar-benar merasakan goncangan jiwa yang tidak seperti biasanya, setiap hari aku selalu ingin mencoba sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Di usia remaja ini, aku ingin lepas sebebas-bebasnya tanpa kekangan dari siapapun. Kata keluarga, sikapku sangat jauh berubah sembilan puluh derajat dari sebelum aku kelas tiga, tapi aku tidak menghiraukan omongan mereka.
Ketika aku nongkrong di kedai samping rumah, tiba-tiba Romi menghampiriku.

“Dayat, nanti malam kita ke diskotik yuk!” Ucap Romi, sembari mendekat.
“Ngapain Romi?” jawabku.
“Ngapain lagi yat, biasa anak muda…”
“Aduh… rom, aku nggak bisa, aku nggak pernah ke tempat gituan”
“Yat… Dayat… kamu itu udah gede, kamu bukan anak ingusan lagi, kamu itu harus gaul men… biar kamu nggak dibilang teman-teman yang lain dengan sebutan cupu bin katro”

Karena tidak mau dibilang cupu dan katro, lalu aku pun mengiyakan ajakan Romi tersebut.
Aku susuri persimpangan malam dengan perasaan tidak menentu, ketika pulang dari diskotik menuju rumah. Setibanya di kamar tidur, aku rebahkan sekujur tubuh di ranjang bergaris-garis biru, pikiranku tidak karuan seolah ada kekhawatiran dan perasaan tidak enak. Karena malam sudah larut, aku paksakan mata memejam karena besok kami akan menerima rapor di sekolah.

Di bawah terik mentari yang tersenyum sekitar pukul sebelas siang ini, aku pulang dari sekolahku menuju rumah, dari kejauhan terlihat senyum manis memancar dari dua orang insan yang sedang menantikan sang anak. Mungkin mereka berharap di hari penerimaan rapor semester satu ini sang buah hati tetap bisa mempertahankan rangking satunya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana karena nilai raporku turun drastis, dengan perasaan tidak menentu aku beranikan diri mendekati Ayah dan Ibu. Melihat nilai raporku yang sangat jelek, Ayah langsung marah kepadaku.

“Kamu ini gimana sih, nilainya kok bisa jelek gini, kamu ini cuma bisa malu-maluin Ayah saja, beginilah… kalau kamu tidak mau lagi diatur”
“Sudah pak, mungkin Dayat juga tidak menyangka nilainya begini” jawab Ibu, mencoba meredam kemarahan Ayah.
Ayah pun melangkah pergi, meninggalkan aku dan Ibu. Aku tidak ambil pusing terhadap apa yang baru Ayah katakan, yang penting aku tetap bisa happy menjalani hidup.


Setengah tahun telah berlalu, ketika mentari pamit pulang ke ufuk barat, burung-burung lalu-lalang menuju peraduan masing-masing dan pelangi menghiasi sore nan indah. Di dalam rumah, Ayah mendekati aku ketika sedang asyik-asyiknya mendengarkan musik di kamar. Lalu Ayah berkata kepadaku.

“Dayat, satu minggu lagi kan kamu sudah lulus SMP, jadi Ayah ingin kamu masuk pesantren nak, bagaimana menurutmu?”
“Aduh… aku gak suka sekolah pesantren yah, aku gak berani tinggal di asrama” jawabku mencari-cari alasan.
Ibu tiba-tiba mendekati kami, mungkin tadi beliau mendengar pembicaraanku dengan Ayah, lalu Ibu memegang tanganku sembari membujuk.
“Nak, apa yang dikatakan Ayahmu demi kebaikan kamu juga”
“Gimana sih Ibu, bukannya mau membela, malah dukung Ayah lagi. Mau jadi apa aku nanti kalau aku sekolah di pesantren?” menyahut ucapan Ibu dengan angkuhnya.
“Nak, kalau Ibu dan Ayah nanti meninggal, siapa yang akan menyolatkan dan mendoakan kami?”

Hatiku sontak kaget mendengarkan kata-kata Ibu, bagaimana pun juga aku masih mempunyai hati nurani. Aku sangat terharu mendengarkan ucapan Ibu tersebut, seorang manusia yang telah mengorbankan hidup dan matinya untukku sejak dari alam rahim. Sejenak hatiku luluh mendengarkan ucapan Ibu tadi.
Di hari minggu ini, cuaca sangat mendung, semendung hati yang aku rasakan. Aku benar-benar berada di persimpangan hati, apakah menuruti kemauan kedua orangtua atau tidak. Tiba-tiba saja Ibu menghampiriku dari belakang, dengan suara kasih sayang Ibu berusaha menenangkan kerisauan hatiku. Mungkin tadi Ibu memperhatikan aku ketika duduk di kursi berwarna hitam ini.

“Yat, Ibu tahu hati anak Ibu sedang risau, apa yang kamu pikirkan nak?”
“Nggak ada bu, cuma kurang fit aja”
“Kamu tidak boleh bohong sama Ibu, pasti kamu masih belum bisa menerima keputusan Ayah dan Ibu”
Kemudian Ibu mencoba menenangkan hatiku yang sedang galau tingkat tinggi ini.
“Nak di dalam tubuh manusia itu ada yang disebut dengan hati, ia ibarat sepotong roti yang harus dipersembahkan kepada yang pantas kita cintai, kamu ngerti kan?”
“Iya bu” Jawabku walaupun aku tidak tahu maksud perkataan Ibu.

Dengan perasaan terpaksa akhirnya aku menuruti permintaan Ayah dan Ibu. Setelah lulus dari bangku SMP, aku didaftarkan ke salah satu pondok pesantren. Mendengar aku masuk pesantren, teman-teman sebaya mengucilkan aku di kampung, tapi aku tidak terlalu menghiraukannya karena mungkin inilah jalan takdir yang harus aku hadapi. Awalnya aku ingin berhenti setelah satu minggu di pondok ini karena berbagai peraturan yang sangat ketat, berkat dorongan Ayah dan Ibu akhirnya aku betah juga di tempat para mujahid ilmu ini. Di pondok ini juga aku benar-benar merasakan kedamaian hati yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seolah-olah aku terlahir kembali menjadi Muslim yang sesungguhnya, bukan hanya Muslim di KTP saja.

Malam Jumat tepat pada pukul 12.00 aku terbangun di keheningan malam, aku teringat semua kesalahan yang pernah aku perbuat dan juga teringat kepada keluarga di kampung. Di tengah suara jangkrik yang sahut menyahut, aku mengambil air wudu, untuk mengerjakan salat Tahajjud. Air mataku bercucuran membasahi sajadah ketika berdoa dan meminta ampun kepada sang khalik selepas salat Tahajjud. Setelah curhat kepada Allah hatiku begitu tenang dan damai.

Ketika sedang di ranjang tidur, aku teringat kepada perkataan Ibu bahwa di dalam tubuh manusia itu ada yang disebut dengan hati. Hati itu ibarat sepotong roti yang harus dipersembahkan kepada yang paling pantas untuk dicinta. Sejenak aku terdiam bingung seolah ada yang membisikkan maksud dari perkataan Ibu kepadaku, pikiranku langsung terbuka dan tahu jawabannya, maksudnya adalah hati itu harus dipersembahkan kepada yang paling pantas dicintai di jagat raya ini, yakni kepada Tuhan semesta alam, Allah SWT. Aku pun tersenyum sendiri setelah mengetahui maksud dari ucapan Ibu itu.

Aku pun berjanji pada diriku sendiri bahwa kesucian sepotong hati yang ada di dalam tubuh ini akan aku persembahkan kepada Tuhan, dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Dari jendela dekat ranjang aku menatap ke langit, terlihat bulan yang sedang bahagia seolah menjadi saksi bisu dari pertaubatanku.

Selesai